Indonesia Adalah “pion” amerika serikat (1967-2013)

Siapakah presiden indonesia yang paling ditakuti dunia ? mayoritas menjawab letjend suharto ? tidak,jawaban itu salah besar,suharto adalah pion emas propaganda,penghianat negara.jawaban yang betul : presiden briliant,heroik,karismatik,berani,tak mau didikte dan mempunyai visi kedepan hanya ada pada bung karno,sejak kejatuhan soekarno,indonesia menjadi “pion” bagi amerika serikat dengan penyebaran propagandanya yang sukses mengguling gulingkan negara kita tercinta ini,walaupun saat ini kita masih tertindas karena kepalsuan politik indonesia atas pancasila yang sebenarnya memiliki kepentingan untuk menumbuhkan liberal-kapitalis !
-pasca suharto diangkat menjadi presiden,amerika getol memberikan bantuan yang sebenarnya “hutang” dengan bunga yang mencekik di kemudian hari hingga terjadinya reformasi yang merupakan skenario sekutu (barat)
-amerika mulai terusik karena B.J Habibie yang menjadi menristek yang sejatinya saat lalu disekolahkan bung karno untuk memajukkan indonesia, membuat gebrakan dengan merancang bangun prototipe pesawat terbang penumpang kelas menengah sampai sekelas boeing 737 dengan nama N-Series dibawah naungan PT IPTN,celakanya suharto mendukungnya !,amerika dengan taktik liciknya membuat skenario,penagihan pinjaman menjadi berbunga sehingga terjadi krisis moneter di seluruh belahan dunia agar seluruh negara di dunia mau meinvestasikan modal dan mendapat pinjaman uang dan mengikat kontrak pelarangan pembangunan industri yang menjadi pokok penting hidup AS,suapya industri saingan AS tidak terusik…..
-Amien Rais bekingan A.S untuk membuka jembatan terbukanya sistem kapital-liberal agar pasar bebas dan globalisasi busuk bisa menyebar,indonesia yang tak siap,siap menjadi budak ! amien rais sebagai ketua MPR dijadikan alat dengan jalan amandemen Undang2 yang sebenarnya menyalahi aturan amandemen itu sendiri !
-sampai presiden berikutnya,amerika terus menebar pion pion pemimpin palsu agar negara dapat terus disetir mereka
-bagaimana kita melawan ? satu satunya hanya dengan jalan sosial komunis.

Aside | Posted on by | Tagged , , , , | 2 Comments

Sosial-Komunis Tidak Ada Hubungannya Dengan Atheis

Ateisme tidak sama dengan komunisme. Ateisme
adalah ketidakpercayaan terhadap keberadaan
Tuhan dalam hal ini Tuhan personal, Sang Maha
Pencipta, dan Maha Berkehendak. Sementara
komunisme adalah ideologi ekonomi politik.
Oleh karena itu, tidak semua ateis adalah
komunis dan tidak semua komunis adalah ateis.
Seorang ateis bisa saja memiliki pandangan
liberal, sekuler, kapitalis, atau juga komunis.
Sementara itu, walaupun mungkin sebagian besar
komunis adalah ateis, ada banyak orang
beragama atau teis yang menganut komunisme
sebagai ideologi ekonomi politiknya, di Indonesia
contoh yang terkenal adalah Haji Misbach,
sementara di India komunisme bukan hanya
dirangkul, tetapi juga dipimpin oleh muslim,
sementara di Amerika Latin, komunisme/
marxisme mempengaruhi ajaran Katolik sehingga
terbentuklah Teologi Pembebasan.
Komunisme adalah paham yang menolak
kepemilikan barang pribadi dan beranggapan
bahwa semua barang produksi harus menjadi
milik bersama. Ini bertujuan agar tidak ada
hirarki buruh-pemilik modal karena sistem
kapitalis cenderung mengeksploitasi manusia.
Komunisme memiliki keberpihakan yang sangat
tinggi terhadap rakyat miskin, yang disebut
sebagai proletar, dan menolak kapitalisme yang
dianggapnya adalah penghisapan manusia atas
manusia. Itulah kenapa PKI pada masanya mampu
menjadi partai terbesar ketiga di Indonesia.
Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah rakyat
miskin di negara yang baru lepas dari penjajahan
mendukungnya; dan itu sama sekali tidak
berhubungan dengan ateisme.
Salah satu penyebab dihubung-hubungkannya
ateisme dengan komunisme, mungkin adalah
kata-kata Karl Marx, “Agama adalah candu
bagi massa rakyat.” Hal lain yang sering diingat
adalah syair lagu Internationale–lagu mars
komunis internasional–yang berbuyi, “Tiada
maha-juru-s’lamat/Tidak Tuhan atau raja.”
Kesan bahwa komunisme itu bukan hanya ateis
tapi juga anti-teis bisa jadi disebabkan tindakan
represif terhadap kehidupan beragama yang
banyak terjadi di negara-negara komunis.
Namun demikian, perlu diingat, pemberangusan di
negara komunis bukan hanya ditujukan pada
kelompok agama, melainkan juga pada kelompok
liberal, pendukung demokrasi multipartai, serta
kaum oposisi dan pembangkang.
Anti-teis dan ateis tidak tepat disandangkan
pada komunisme/marxisme. Yang lebih tepat
sebetulnya adalah bahwa komunisme/marxisme
anti agama. Lebih tepat lagi, anti struktur
kekuasaan agama yang sengaja dipelihara
disamping kekuasaan raja untuk melemahkan
daya kritis dan daya juang rakyat melawan
tirani. Persisnya yang dilawan oleh komunisme
adalah struktur kekuasaan agama dalam
pemerintahan dan kehidupan politik sebagai alat
kontrol (melalui mekanisme obat bius/candu
pengurang rasa sakit bagi penderitaan dan
kemiskinan) rakyat.
Di Indonesia, cap ateis pada komunis dan
sebaliknya adalah hasil dari propaganda rejim
Orde Baru yang ingin melenyapkan partai besar
dan jutaan pendukungnya tersebut secara instan
dan dalam jangka panjang. Guna mendapatkan
dukungan kelompok agama, maka rejim Orde
Baru mempropagandakan bahwa komunis adalah
ateis, musuh agama, sehingga mereka harus
diberantas dari bumi Indonesia. Lebih dari satu
juta orang dibunuh, dirampas harta benda dan
hak-hak sipilnya, dipenjara tanpa pengadilan,
dibuang ke Pulau Buru akibat kampanye
antikomunis di tahun 60-an ini.
Mari cek tokoh-tokoh Komunis Indonesia yang
beragama tapi pengikut komunis,
Tan Malaka
Klik link ini http://seniman-
kehidupan.blogspot.com/2010/12/tan-
malaka.html
Dipa Nusantara Aidit
Klik link ini http://sang-
tokoh.blogspot.com/2008/12/dipa-nusantara-
aidit.html

Aside | Posted on by | Tagged | 7 Comments

Hati – Hati ! Pencitraan Politik atas Nama Rakyat ! ternyata membantu kaum kapitalis dan liberalis !

PRABOWO SUMBANG 1 JUTA DOLLAR (10 MILYARD)
UNTUK KAMPANYE BARRACK OBAMA.
LENSAINDONESIA.COM: Berbagai manuver tingkat
tinggi terus dilakukan Ketua Dewan Pembina
Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk
memperoleh dukungan dalam Pilpres 2014
mendatang. Salah satunya, mantan Danjen
Kopassus ini dikabarkan menggelontorkan US$ 1
juta (sekitar Rp 10 miliar) untuk membantu
kampanye Presiden (incumbent) Amerika Serikat,
Barack Obama.
Diduga, sumbangan itu dimaksudkan agar pada
Pilpres 2014 mendatang, Presiden Obama (jika
terpilih) akan mendukung pencalonannya.
Kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat
menyedot dana sangat besar. Kandidat tak akan
mampu berlaga tanpa dukungan donatur. Nah,
siapa saja orang-orang kaya di balik Barack
Obama?
Donatur individual untuk kandidat presiden
dibatasi sampai US$2.500 untuk laga nominasi di
level negara bagian, dan boleh US$2.500 lagi
untuk pemilihan umum.
Tapi kelompok independen seperti Super PACs
(political action committees) boleh menghimpun
dana tanpa batas dari siapa pun: Individu,
perusahaan, maupun serikat pekerja. Hanya bagi
penyumbang dari negara luar tidak dapat
disebutkan dalam daftar penyumbang.
Beberapa nama orang-orang kaya maupun
organisasi yang masing-masing menyumbang
sedikitnya US$ 1 juta dollar atau sekitar Rp 9,6
miliar kepada Super PACs, sebagaimana
diungkapkan oleh Federal Election Commission dan
dikutip oleh Reuters. Termasuk diantaranya
Prabowo Subianto ikut menyumbang bagi Obama,
senilai US$1 juta.
http://www.lensaindonesia.com/2012/11/06/
prabowo-sumbang-rp-10-miliar-ke-
kampanye-presiden-obama.html

http://forum.detik.com/wah-prabowo-nyum
bang-1-juta-ke-kampanye-obama-2012-
t559649.html?p=22051363

http://www.regionaltimur.com/index.php/
donatur-obama-prabowo-ikut-menyumbang/

https://contribute.barackobama.com/donation/
orgforaction/2/index.html ?

Aside | Posted on by | Tagged , | Leave a comment

Kumpulan Tulisan D.N Aidit by : http://www.marxists.org/indonesia/index.htm

Ayo Bersama-sama Bung Karno Kita Bina Kebudayaan yang Berkepribadian Nasional!

D.N. Aidit (1964)


Sumber: Tentang Sastra dan Seni, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1964. Scan PDF Brosur

Diedit dan dimuat oleh Ted Sprague (5 April, 2013)


PENGANTAR PENERBIT

Dari tanggal 27 Agustus sampai dengan 2 September 1964 CC PKI telah menyelenggarakan Konferensi Nasional Sastra dan Seni di Jakarta yang dikunjungi oleh para sastrawan dan seniman revolusioner dari segenap penjuru tanah air. Konferensi ini, Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR), adalah konfernas sastra dan seni yang pertama yang diselenggarakan oleh PKI.

Sebelum KSSR PKI sudah bekerja di bidang sastra dan seni, dasar-dasar untuk pekerjaan itu telah diletakkan. Meskipun demikian mengingat masih banyaknya tugas-tugas yang harus dikerjakan dalam rangka menegakkan dan mengembangkan “prinsip berkepribadian dalam kebudayaan”, maka KSSR ini diadakan.

Banyak bahan berguna telah disampaikan kepada Konfernas, baik oleh para pemimpin PKI maupun oleh para peserta KSSR. Kali ini kami terbitkan tiga bahan pokok yang diucapkan oleh Ketua CC PKI, D.N. Aidit, yaitu referat yang berjudulDengan sastra dan seni yang berkepribadian nasional mengabdi buruh, tani dan prajurit dan Kibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran di bidang sastra dan seni revolusioner! serta Ayo bersama-sama Bung Karno kita bina kebudayaan yang berkepribadian nasional! sebagai lampiran.

Semoga usaha ini dapat membantu pelaksanaan keputusan-keputusan KSSR.

Jakarta, Desember 1964

Penerbit

 

———————————

P. J. M. Presiden, Bung Karno yang tercinta.

Para Wakil Perdana Menteri dan para Menteri yang mulia.

Para tamu yang terhormat.

Para Saudara dan Kawan-kawan.

Pertama-tama perkenankanlah saya atas nama Comite Central PKI menyampaikan rasa terima kasih kepada para hadirin atas kesediaan dan kesudian untuk bersama-sama Bung Karno yang kita cintai menghadiri Malam Resepsi Pembukaan Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) sekarang ini.

Terutama kepada Bung Karno saya menyatakan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas kesediaan dan kesudian beliau berada di tengah-tengah kita bersama malam ini. Kenyataan ini sekali lagi menunjukkan, bahwa seperti yang pernah dinyatakan sendiri oleh Bung Karno di depan resepsi Kongres Nasional ke-VI PKI, bahwa PKI adalah yo sanak yo kadangnya Bung Karno yen mati Bung Karno melu kelangan. Peristiwa malam ini sekaligus membuktikan, bahwa tidak hanya di bidang politik dan ekonomi serta di bidang-bidang lainnya, tetapi juga di bidang kebudayaan, khususnya sastra dan seni, PKI merupakan sanak dan kadangnya Bung Karno.

Betapa tidak para Saudara dan Kawan-kawan. PKI mendukung dan melaksanakan dengan konsekuen penegasan Bung Karno dalam “Lahirnya Pancasila” yang menolak kosmopolitanisme di satu pihak serta menolak sovinisme dan nasionalisme yang sempit di pihak lain. PKI mendukung dan melaksanakan dengan sepenuh hati ide Bung Karno yang menekankan agar seni menjadi duta masa dan duta massa, seperti yang beliau amanatkan dalam resepsi Kongres Nasional Pertama LEKRA di Solo tahun 1959. PKI mendukung dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh seruan Bung Karno dalam Manipol agar imperialisme kebudayaan diganyang dan agar kebudayaan nasional dilindungi dan dikembangkan. PKI mendukung dan melaksanakan dengan tak kenal lelah seruan Bung Karno agar melawan musikngak-ngik-ngok, tarian rock ‘n rolltwist, rambut sasak dan gondrol (beatles) yang berkali-kali beliau kemukakan dalam berbagai rapat belakangan ini. Dan PKI mendukung dan memperjuangkan realisasi yang konsekuen ide Bung Karno tentang prinsip “berkepribadian dalam kebudayaan” seperti yang beliau tegaskan dalam amanat TAVIP baru-baru ini.

KSSR yang dibuka dengan resepsi di Istana Negara malam ini dan akan berlangsung sampai dengan tanggal 2 September yang akan datang justru dimaksudkan oleh PKI sebagai langkah konkret dalam merealisasi ide Bung Karno seperti yang beliau tegaskan dalam pidato TAVIP tersebut.

KSSR ini baru pertama kalinya diselenggarakan oleh PKI. Tetapi dengan ini tidak berarti bahwa PKI baru mau meletakkan dasar-dasar bagi pekerjaan di bidang sastra dan seni. Dengan berdirinya LEKRA 14 tahun yang lalu mulailah dengan sadar PKI mengibarkan tinggi-tinggi panji-panji “seni untuk rakyat” atau “seni untuk revolusi” seperti yang juga menjadi gagasan Bung Karno. Dan sejak itu ofensif kebudayaan rakyat dilancarkan dengan lebih terpimpin, sehingga makin hari makin besar jumlah kubu pertahanan kebudayaan musuh yang diserbu dan ada yang sudah dapat dihancurkan. Dan kaum reaksioner terpaksa harus jatuh-bangun dalam mempertahankan diri dari serbuan-serbuan itu. Apapun bendera yang mereka kibarkan di atas kubu pertahanan mereka, rakyat selalu berhasil memaksa menurunkannya. Humanisme universal, kosmopolitanisme, nihilisme nasional, propinsialisme, separatisme, rasialisme, dan entah apa lagi, semua diganyang dan ada yang sudah dikalahkan. Dan benderanya yang muncul akhir-akhir ini yang bernama “Manikebu” tidak sampai seumur jagung sudah digulung oleh rakyat bersama Bung Karno.

Di tengah-tengah perjuangan rakyat Indonesia melaksanakan Dwikora di bawah pimpinan Bung Karno guna membubarkan “Malaysia” proyek imperialis Inggris yang disokong sepenuhnya oleh imperialis Amerika Serikat, mereka jayakan “Manikebu”. Mereka katakan sejelek-jelek manusia, tentunya termasuk Tengku Abdurachman dan Lyndon Johnson, masih bersinar “cahaya Ilahi” di dalam dirinya, masih ada segi-segi baik pada diri mereka. Dan karenanya, menurut kaum Manikebuis, imperialis dan boneka-bonekanya jangan dimusuhi. Begitulah cara-cara mereka mengebiri Manipol agar rakyat tidak mengenal dan tidak mengganyang musuh-musuhnya.

Tetapi, mereka gigit jari. Rakyat Indonesia yang telah dibajakan oleh pengalaman perjuangan revolusioner terutama oleh api Revolusi Agustus 1945, tidak setolol dan senaif yang mereka kira.

Kini seiring dengan menanjaknya semangat anti-imperialisme di kalangan rakyat, makin meningkat pulalah ofensif rakyat terhadap kebudayaan imperialis. Film-film AS sudah lebih dari tiga bulan diboikot secara total, dan berkat desakan rakyat yang makin santer, akhirnya AMPAI pun dihentikan kegiatannya. Kini rakyat berjuang terus supaya oknum-oknum yang main mata dengan AMPAI diritul, supaya Dewan Film Indonesia juga diritul dan di-Nasakom-kan pimpinan dan komposisi keanggotaannya, serta importir-importir Amerika Serikat yang berkedok “Indonesia” dibubarkan.

Mengapa kaum Komunis menyambut prinsip “berkepribadian dalam kebudayaan” dengan gairah? Karena belajar dari pengalaman perjuangan kita selama ini, hanya dengan kebudayaan yang berkepribadianlah kita tidak hanya dapat bertahan tetapi juga mampu berlawan dan mengalahkan serangan kebudayaan imperialis. Kita tidak mungkin merampungkan tugas-tugas revolusi Indonesia tahap pertama dan lebih-lebih lagi tahap kedua, tanpa dihangati oleh apinya kebudayaan yang berkepribadian nasional yang kuat.

Bidang-bidang sastra dan seni termasuk bidang-bidang terpenting dan bidang-bidang yang paling perasa daripada pekerjaan ideologi kita. Dan setiap pekerjaan ideologi tanpa perkecualian harus disubordinasikan kepada kepentingan rakyat Indonesia.

Perjuangan di bidang sastra dan seni adalah bagian daripada perjuangan kaum Komunis dalam mengindonesiakan Marxisme-Leninisme, bagian daripada perjuangan kita dalam menjalankan revolusi secara kreatif dalam menerapkan kebenaran universal Marxisme pada kenyataan-kenyataan spesifik negeri kita, dengan sepenuhnya memperhitungkan kemampuan dan tradisi, tuntutan-tuntutan dan taraf kesadaran rakyat Indonesia. Oleh karenanya, kaum Komunis dalam memecahkan sesuatu problem bukan pertama-tama bertolak dari formula-formula atau dalil-dalil yang sudah ready-made (tersedia), melainkan berlandaskan analisa yang ilmiah terhadap keadaan konkret. Dari sini keterangannya mengapa kaum Komunis juga menggarisbawahi seruan Bung Karno supaya “meninggalkan text-book thinking”. Ini berarti bahwa kita harus kreatif dan juga berkepribadian di bidang ilmu.

“Berkepribadian dalam kebudayaan” dan “meninggalkan text-book thinking” jika kita laksanakan dengan sadar dan konsekuen adalah dua prinsip yang akan membawa perkembangan besar dalam sastra dan seni serta ilmu Indonesia. Untuk melaksanakan dua prinsip ini kita harus lebih banyak mengenal keadaan negeri dan rakyat kita sendiri, mengenal masa lampau dan masa kini untuk membentuk masa depan yang gemilang. Ini berarti bahwa kita harus lebih sungguh-sungguh mempelajari sejarah dan geografi serta adat-istiadat rakyat kita. Tidak hanya untuk kerja politik, juga untuk kerja sastra dan seni serta ilmu diperlukan pengenalan yang dalam tentang masalah-masalah ini, sebab hanya dengan demikian kita dapat membangkitkan kebanggaan nasional rakyat, mendidik rakyat dengan cara yang paling cocok bagi mereka dan yang paling menjiwai mereka dengan kecintaan yang mendalam kepada tanah air.

Menegakkan kepribadian nasional dalam kebudayaan pada hakikatnya adalah mengobarkan patriotisme atau semangat banteng dalam kebudayaan. Dengan ini tidak berarti bahwa kita ingin memisahkan sastra dan seni kita dari sastra dan seni revolusioner dunia. Tidak, sama sekali tidak. Sastra dan seni yang berkepribadian adalah perwujudan patriotisme di bidang sastra dan seni, sedang patriotisme yang progresif, patriotisme revolusioner, yang selain mencintai tanah air dan rakyat Indonesia juga berwatak anti-imperialisme dan anti-pengisapan. Sastra dan seni Indonesia yang demikian dapat juga dinikmati oleh rakyat-rakyat negeri-negeri lain, seperti juga kita dapat menikmati sastra dan seni progresif dari rakyat-rakyat negeri lain. Sastra dan seni Indonesia yang berkepribadian nasional adalah kawan seperjuangan sastra dan seni revolusioner negeri-negeri lain, saling melengkapi dan saling mendorong dalam mengabdikan diri kepada perjuangan rakyat negeri masing-masing dan rakyat-rakyat sedunia.

Karena kepribadian bukan sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan tumbuh dari proses kehidupan dan perjuangan sesuatu nasion, maka berbicara tentang kepribadian tanpa menghubungkannya dengan kepentingan kaum buruh dan tani sebagai mayoritas rakyat yang menciptakan kepribadian nasional dan bahkan yang menciptakan sejarah itu sendiri, hakikatnya adalah omong kosong. Inilah sebabnya pengibaran panji “Seni untuk Rakyat” atau seperti dikatakan Bung Karno di depan Kongres Solo LEKRA “seni dari rakyat untuk rakyat” harus terutama diartikan “seni dari kaum buruh dan tani untuk kaum buruh dan tani”. Selama ini sastrawan dan seniman revolusioner telah menunjukkan kesungguhan dan kesanggupannya dalam merealisasi semboyan itu dalam karya-karya dan kegiatan-kegiatan mereka. Sudah banyak kemajuan yang dicapai, namun masih lebih banyak lagi penyempurnaan yang diperlukan, terutama dalam memenuhi “dua tinggi”, yaitu tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik.

Dalam menyempurnakan pengabdian sastra dan seni kepada rakyat, ada kekurangan penting yang perlu segera kita atasi, yaitu belum dijadikannya prajurit sebagai salah satu objek karya sastra dan seni revolusioner. Sedangkan jika dilihat dari asal-usulnya, prajurit-prajurit kita pada umumnya berasal dari rakyat pekerja, mereka lahir di tengah-tengah nyala api Revolusi Agustus 1945 dan api perjuangan membasmi “PRRI-Permesta”, membebaskan Irian Barat dan mengganyang “Malaysia”, sedangkan vitalitasnya dalam perampungan tugas-tugas revolusi tidak dapat disangkal.

Sastra dan seni merupakan bagian dari usaha-usaha revolusi yang mutlak perlu, seperti mutlak perlunya jantung bagi kehidupan manusia. Tetapi sastra dan seni hanya akan menjadi jantung revolusi yang baik, bila ia berpanglimakan politik yang revolusioner. Ini sesuai sepenuhnya dengan penegasan Bung Karno bahwa seni dan politik harus satu, dan bahwa seni harus diabdikan kepada politik, kepada revolusi.

Karena sastra dan seni harus mengabdi kepada revolusi, maka sastra dan seni harus diintegrasikan dengan revolusi. Ini hanya mungkin manakala sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman revolusioner mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tindakannya dengan revolusi, dengan kehidupan dan perjuangan revolusioner rakyat. Sebab hanya sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman yang mempersenyawakan dirinya dengan massa akan disayangi oleh massa dan karya-karyanya akan disenangi massa. Tepat apa yang dikemukakan oleh almarhum Ki Hajar Dewantara di dalam pertemuan para sastrawan untuk pembentukan Fakultas Sastra yang pertama di Indonesia pada bulan Desember 1929 di Surakarta: “Apabila tuan-tuan tidak mau memperdulikan jiwa massa, massa juga tidak akan memperdulikan tuan-tuan”. Kata-kata arif ini bukan hanya penting bagi sarjana-sarjana sastra yang dituju oleh Ki Hajar ketika itu, tetapi juga berlaku sepenuhnya bagi sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman revolusioner masa kini maupun masa nanti.

Untuk memiliki “jiwa massa” PKI menekankan pentingnya sastrawan dan seniman revolusioner terus-menerus membajakan diri dan mendidik diri, sehingga mereka senantiasa berada dalam kehangatan api perjuangan massa dan selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang teori-teori revolusioner maupun tentang penciptaan sastra dan seni. Dengan demikian karya-karya mereka akan lebih baik mutu ideologi dan mutu artistiknya dan lebih mampu menggugah dan membangkitkan massa dalam menunaikan tugas-tugas sejarahnya.

Untuk menemukan cara-cara yang lebih efektif dalam menunaikan tugas-tugas berat tapi mulia itu, telah berkumpul di Jakarta sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman peserta KSSR dari berbagai bidang kegiatan dan dari seluruh penjuru tanah air, dan kini mereka berada di ruangan ini bersama-sama Bung Karno yang mereka cintai.

Adalah pada tempatnya dan tidak berlebih-lebihanlah harapan mereka agar pada kesempatan ini nanti mereka mendapatkan bekal-bekal berharga langsung dari Bung Karno sendiri, untuk lebih menjamin dapatnya KSSR ini mencapai sukses yang maksimal dalam menjadikan sastra dan seni sebagai senjata ampuh di tangan rakyat.

Untuk tidak mengurangi waktu yang akan digunakan oleh Bung Karno, saya hentikan uraian saya sampai di sini dengan harapan agar melalui KSSR ini PKI dapat bersama-sama Bung Karno dan kaum revolusioner lainnya merealisasi secara konsekuen prinsip “berkepribadian dalam kebudayaan”.

Ayo bersama Bung Karno kita bina kebudayaan yang berkepribadian nasional!

 

Jakarta, 27 Agustus 1964.

Lanjutan :

http://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditSastra2.htm

http://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditSastra.htm

http://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditPolitikLuarNegeri.htm

http://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditPemecahanEkonomi.htm

selengkapnya baca di :

http://www.marxists.org/indonesia/index.htm

Posted in SOSKOMID | Leave a comment

Kepalsuan G30S : Memojokkan Komunis Indonesia Dengan Beking CIA-Amerika,Sejarah Harus Diluruskan !

01-10-2012
Melacak “The Soeharto – CIA Connection”
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute
 

Catatan Penulis: Memperingati 30 September 1965, berikut sebuah artikel yang saya tulis, ketika bersama-sama dengan tim redaksi Tabloid Detak pada 1998 melakukan investigasi mengungkap apa yang terjadi sesungguhnya di balik tragedi yang pada akhirnya bermuara pada kejatuhan Presiden Pertama RI Bung Karno. 

 

Berikut paparan selengkapnya yang saya tulis pada 29 September 1998 di mingguan Tabloid Detak. Dan atas prakarsa dari AS Laksana, salah seorang tim investigasi Detak, lantas membukukan hasil investigasi tersebut yang bertajuk: “Siapa Sebenarnya Suharto, Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-S PKI”, Eros Djarot, dkk, terbitan Media Kita.”

“Salah satu plan ialah untuk membunuh beberapa pemimpin Indonesia. Sukarno, Yani, Subandrio. Itu yang pertama-tama om zee gebrahct. Harus dibunuh. Malah kalau bisa sebelum konperensi Aljazair. Deze drie beihamer harus dibunuh. Sukarno, Yani, Subandirio. Wij weten het. Kita tahu.”

(Amanat Bung Karno di depan Rapat Panglima TNI AD, 28 Mei 1965).

Siapa sebenarnya Suharto? Pertanyaan semacam itu rasa-rasanya layak untuk diajukan, kalau mau menguak lebih jauh teka-teki peristiwa G-30S 1965. Dari berbagai hipotesis dan analisis, terungkap ada beberapa keanehan. Misalnya, tiga orang penggerak G-30S (Latief, Untung, Soepardjo), oleh banyak kalangan dikenal sebagai orang orang dekat Suharto. Bahkan, dari cerita seputar kedekatan Suharto dengan Untung-Latief-Soepardjo dalam berbagai peristiwa di masa lalu, tergambarkan adanya hubungan yang tidak sebatas atasan dan bawahan saja.

Lebih dari itu, terkesan adanya hubungan “perkoncoan yang terjalin cukup erat”. Tak berlebihan bila kemudian berkembang anggapan, jangan-jangan baik penggerak maupun penumpas G-30 S dimotori oleh orang orang yang sama. The Suharto Connection. Dengan kata lain, baik penggerak G-30 S maupun kontra G-30 S merupakan suatu tatanan tunggal alias subordinasi dua faksi di bawah komando Suharto.

Itu keanehan yang pertama, Keanehan kedua, ternyata satu kompi batalyon 454/Diponegoro, Jawa Tengah dan satu kompi batalyon 530/Brawijaya Jawa Timur, yang secara terselubung digunakan Suharto sebagai penggerak G-30 S, ternyata merupakan pasukan raider elite yang menerima bantuan Amerika sejak 1962.

Lebih dari itu, para penggerak Gestapu itu sendiri ternyata pernah dilatih di AS. Brigjen Soepardjo, misalnya, pernah mengenyam pendidikan di Fort Bragg dan Okinawa, Jepang. Begitu juga dengan Untung dan Latief. Suherman, pemimpin Gestapu di Jawa Tengah, ternyata juga pernah dilatih di Fort Leavenworth dan Okinawa, Jepang.

Ini menarik. Sebab, dalam tradisi yang dikembangkan di Pentagon, setiap orang asing yang mengikuti pelatihan tersebut, merupakan orang orang yang telah melewati seleksi ketat dinas intelijen Amerika. Karenanya cukup mengejutkan bahwa ketiga penggerak utama G-30S itu ternyata kader komunis.

Namun, di mata seorang sumber yang pernah dibina langsung oleh CIA, hal semacam itu bisa saja terjadi. Ada beberapa pola perekrutan yang lazim dilakukan oleh CIA. Pertama, beberapa orang direkrut dan dibina dengan maksud untuk dijadikan bagian langsung dari organ CIA. Kedua, ada orang yang direkrut semata-mata untuk tujuan temporer. Dan ketiga, boleh jadi orang yang direkrut tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan untuk tujuan tujuan dan kepentingan kepentingan tertentu.

Dengan jalan berpikir seperti itu, bukan tidak mungkin Untung-Latief-Soepardjo secara sadar diterima dalam jaringan CIA justru untuk digunakan sebagai penunjang skenario besar CIA menggulingkan Bung Karno, sekaligus menghancurkan PKI.

Soalnya sekarang, jika penggerak dan penumpas G-30 S ternyata merupakan satu tatanan tunggal alias subordinasi dua faksi di bawah komando Suharto, wajar kalau ada pertanyaan seputar seberapa jauh Suharto menjalin kerjasama dengan CIA. Ada beberapa teori yang bisa menjelaskan kemungkinan semacam itu. Peter Dale Scott, misalnya pernah mencoba mengurai benang kusut G-30 S(lihat The US and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967).

Dengan asumsi Suharto adalah dalang G-30 S, Scott mencoba membuktikan keterlibatan Suharto melalui adanya operasi intelijen CIA untuk menggarap para alumnus SESKOAD sejak 1950-an. Menurut teman Scott, para alumnus SESKOAD itu pada perkembangannya telah digunakan oleh CIA untuk menunjang gerakan militer Suharto.

Meski baru sebuah kemungkinan, rasa-rasanya masuk akal juga. Sebelumnya, CIA gagal total mensponsori pemberontakan PRRI/PERMESTA 1958. Setelah itu, Amerika mulai menggalakkan suatu program bantuan militer kepada Indonesia. Kabarnya, sempat mencapai senilai 20 juta dolar Amerika per tahun. Bukan itu saja. Atas biaya CIA, sekelompok kecil peneliti akademisi AS yang dimotori oleh Dr Guy Pauker mulai mengadakan kontak-kontak secara terbuka dengan pihak angkatan darat. Tujuannya, menggalang kekuatan anti komunis di Indonesia. Salah satu kawan dekat Pauker di angkatan darat adalah Wakil Komandan SSKAD (Sekarang SESKOAD), Jendral Suwarto, seorang perwira lulusan AS.

Sementara itu pada 1959, Suharto yang waktu itu masih berpangkat kolonel, mulai masuk SSKAD. Mulanya ini bukan pengalaman yang menyenangkan buat Suharto. Betapa tidak. Antara 1956-59, Suharto menjabat Pangdam Diponegoro. Namun, pada perkembangannya, Nasution melihat adanya indikasi keterlibatan Suharto dalam tindak korupsi dan penyelundupan.

Alhasil Suharto dicopot dari jabatannya. Bahkan, Suharto hampir dipecat sebagai tentara. Untungnya, Jendral Gatot Subroto turun tangan sehingga Suharto selamat dari pemecatan. Sebagai gantinya, dia dikirim ke SESKOAD untuk tugas belajar.

Di situlah kontak intensif Suwarto-Suharto bermula. Maka sejak itu Suwarto mulai membina Suharto secara terus-menerus. Dalam berbagai kesempatan, dilibatkan oleh Suwarto dalam penyusunan Doktrin Perang Wilayah dan Operasi Karya. Operasi Karya yang dapat bantuan penuh dari Amerika melalui suatu program yang disebut MILTAG (Military Training and Advisory Group-Penasehat Latihan Militer).

Operasi Karya, resminya merupakan proyek-proyek sipil memperbaiki saluran, memperbaiki sawah baru, serta membangun jembatan dan jalan. Tapi, operasi ini sebenarnya merupakan operasi terselubung untuk membangun kontak-kontak dengan unsur-unsur anti-komunis dalam angkatan darat beserta organisasi wilayahnya.

Jadi, Suharto memang tidak pernah belajar di Amerika. Namun kedekatannya dengan Suwarto dan para intelektual antikomunis dalam operasi karya, besar kemungkinan telah menempatkan Suharto seirama dengan skenario besar CIA untuk mendongkel Bung Knaro seraya menghancurkan keberadaan PKI.

Kalau begitu, sejak awal G-30 S dan kontra G-30S pada 1 Oktober, sejak awal memang bermaksud memunculkan Suharto. Pertanyaannya, mengapa harus Suharto? Bisa jadi Suharto sudah diamati Amerika dan CIA sejak 1959.

Kembali ke dua batalyon yang saya sebut di atas, terbukti bahwa baik untuk peggerak G-30S maupun penumpasan, Suharto membelah komando jadi dua faksi. Untuk gerakan 30 September, Suharto menggerakkan komandan batalyon. Sedangkan untuk menumpas 30 September, Suharto menggerakkan wakil komandan batalyonnya untuk menumpas atasannya langsung yang telah melakukan gerakan 30 S. Padahal sumber perintah datangnya dari satu orang yang sama: Suharto.

Belakangan, melalui investigasi seputar Surat Perintah 11 Maret 1966, terungkap kesaksian kapten Sukarbi, mantan Wakil Komandan Batalyon 530/Brawijaya Jawa Timur, bahwa Suharto selaku Pangkostrad waktu itu, mengeluarkan SK perintah untuk mengambil oper komando Mayor Bambang Supeno sebagai Komandan Batalyon dengan dalih telah terlibat dalam gerakan 30 September.

Beberapa indikasi lain juga memperkuat sinyalemen tersebut. Beberpaa bulan menjelang meletusnya gerkaan 30 September, beberapa veteran PRRI/PERMESTA di bawah pimpinan Yan Walandouw berkunjung ke Washington untuk meminta dukungan Amerika agar Suharto bisa jadi presiden, menggantikakan Bung Karno.Yan Walandouw, Willy Pesik, serta Daan Mogot punya kontak khusus dengan Ali Murtopo, orang dekat Suharto di Kostrad. Dan bahkan jangan lupa, dengan Ekonom Sumitro Djojohadikusumo, yang kelak sejak 1967, berperan penting dalam konferensi ekonomi di Swiss, yang digelar oleh David Rockefeller. Yang kemudian memberi jalan bagi PT Freeport McMoran untuk kembali menanamkan pengaruhnya di Indonesia, menyusul kebijakan nasionalisasi perusahaan asing oleh Bung Karno. Konferensi Swiss yang dari Indonesia dimotori oleh Soemitro dan Ibnu Sutowo, akhirnya keluarlah Undang-Undang Penanaman Modal Asing sebagai payung bagi invasi perusahaan-perusahaan asing di ranah ekonomi Indonesia.

Dengan demikian, Gerakan 30 September 1965 sejatinya adalah gerakan menyingkirkan Jenderal Ahmad Yani, dan para pendukungnya di angkatan darat,yang dianggap setia kepada Bung Karno. Sehingga membuka pintu masuk bagi Suharto untuk merebut kekuasaan secara bertahap (Creeping Coup).

sumber : http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=9654&type=4#.UT20Gh2l7sU

Posted in Uncategorized | 15 Comments

SOEHARTO : Musuh Nyata Dalam Perjuangan Melawan Nekolim-liberal Awal kehancuran Indonesia

Share Posts : Gerakan Anti SBY FB

SUHARTO, JENDRAL ILEGAL JONGOS AMERIKA, YANG NAIK DENGAN SURAT SAKTI PALSU 11 MARET (SUPERSEMAR). Dimana hingga saat ini berkas asli surat tersebut tidak pernah ditemukan. Akibatnya Suharto menuai dilengserkan 1998.Image

SUPERSEMAR DAN PENGKHIANATAN SUHARTO DAN TNI AD

Dalam kesempatan untuk mengenang kembali Supersemar, yang selama 32 tahun Orde Baru telah dipamerkan oleh pendukung-pendukung rezim militer Orde Baru sebagai peristiwa besejarah untuk “menyelamatkan negara dan bangsa Indonesia”, berbagai orang telah mengemukakan pendapat dan perasaan mereka.

Di antara mereka itu terdapat tokoh-tokoh korban peristiwa 65 dan eks-tapol seperti Ibrahim Isa (dari Nederland), Gutav Dupe (dari Jakarta) , Utomo S (pimpinan LPR-KROB). Sejarawan Asvi Warman Adam membuat tulisan yang amat menarik sekali yang berjudul « Supersemar dan kudeta merangkak MPRS », yang mengurai berbagai persoalan dan mengajukan bahan-bahan baru untuk renungan kita bersama. Harian Kompas dan Sinar Harapan juga menyiarkan tulisan-tulisan yang menarik mengenai masalah ini.

SUPERSEMAR MENCELAKAKAN BANGSA DAN NEGARA

Dari tulisan-tulisan yang baru-baru ini dapat dibaca, jelaslah kiranya bahwa Suharto dkk (artinya : Angkatan Darat dengan dukungan berbagai golongan reaksioner dalam negeri dan luar negeri) telah menjadikan Surat Perintah Sebelas Maret sebagai puncak pembangkangan, pemboikotan dan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno.

Pembangkangan, pemboikotan dan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno ini didahului dengan pembunuhan besar-besaran terhadap 3 juta anggota dan simpatisan PKI, dan penahanan sewenang-wenang terhadap sekitar 2 juta orang tidak bersalah apa-apa, serta penyebaran terror di seluruh negeri. Ini semua dilakukan oleh golongan militer (terutama Angkatan Darat), tanpa persetujuan presiden Sukarno.

Sesudah peristiwa Supersemar (11 Maret 1966) pembangkangan dan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno ini dilanjutkan dengan langkah-langkah Suharto dkk lainnya, dengan « membersihkan » MPRS dan DPR-GR dari golongan pro-PKI dan pro-Bung Karno, sehingga MPRS bisa sepenuhnya dikuasai dan dimanipulasi oleh Suharto dkk. MPRS yang sudah dikebiri atau dibikin loyo oleh Angkatan Darat inilah yang kemudian bisa didesak untuk mencabut kedudukan Bung Karno sebagai presiden/panglima tertinggi ABRI/pemimpin besar revolusi/mendataris MPRS.

Seperti sudah sama-sama kita saksikan sendiri, dengan diangkatnya Suharto sebagai presiden dalam tahun 1968 oleh MPRS, maka negara dan bangsa Indonesia telah dijerumuskan oleh Angkatan Darat yang dipimpin Suharto dalam masa gelap selama puluhan tahun yang penuh dengan pelanggaran HAM, kebejatan moral, kerusakan perikemunusiaan, kehancuran kehidupan demokratis, dan hancurnya persatuan bangsa. Dari segi ini dapatlah kiranya kita katakan dengan tegas bahwa Supersemar telah mencelakakan bangsa dan negara.

ANGKATAN DARAT MENGKHIANATI BUNG KARNO DAN REVOLUSI

Berbagai tulisan yang sudah disiarkan di Indonesia dan di luar negeri menunjukkan dengan jelas tentang pengkhianatan golongan Angkatan Darat yang dipimpin Suharto ini terhadap presiden Sukarno, terutama sekali dengan menyalahgunakan Supersemar. Kejahatan Angkatan Darat ini tidak saja karena pembantaian besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan PKI dan simpatisan Bung Karno, melainkan karena telah meneruskan berbagai kejahatan dan pelanggaran HAM selama lebih dari 30 tahun.

Kalau dihitung jumlah orang yang jadi korban pembunuhan, dan yang ditahan sewenang-wenang, dan orang-orang dari berbagai kalangan yang menjadi korban peristiwa 65, ditambah dengan kejahatan-kejahatan lainnya selama Orde Baru, maka tidak salahlah kalau ada orang-orang yang mengatakan bahwa Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto merupakan golongan bangsa yang telah mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi rakyatnya sendiri.

Sejarah dan praktek-praktek Orde Baru menunjukkan dengan jelas bagi banyak orang bahwa dengan menyalahgunakan Supersemar, Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto bukan saja telah mengkhianati Bung Karno, tetapi juga merusak cita-cita revolusi rakyat Indonesia. Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto bukan saja telah menghancurkan PKI dan kekuatan kiri lainnya, tetapi juga merusak secara serius dan besar-besaran banyak tatanan demokratis dari kehidupan politik.

Singkatnya, di bawah pimpinan Suharto, Angkatan Darat telah merusak Republik Indonesia, yang akibat parahnya masih kita saksikan sampai sekarang di berbagai bidang kehidupan bangsa. Kerusakan yang disebabkan berbagai kejahatan ini sudah demikian banyaknya dan juga demikian besarnya sehingga sulit untuk diperbaiki dalam jangka dekat dan waktu singkat. Banyak dari masalah-masalah parah dan rumit yang kita saksikan dewasa ini adalah warisan atau akibat dari rezim militer Orde Baru, yang dibangun oleh Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto.

TNI TELAH DIRUSAK OLEH SUHARTO

Peran busuk dan khianat yang sudah dimainkan oleh Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto yang menyalahgunakan Supersemar untuk menggulingkan presiden Sukarno dan kemudian mendirikan Orde Baru telah berakhir (secara resminya !!!) dengan jatuhnya Orde Baru. Tadinya, banyak orang mengira atau berharap bahwa TNI bisa mengubah dirinya, dan tidak berjiwa dan bertindak lagi seperti selama rezim militer Orde Baru, setelah Suharto tidak lagi menjadi presiden dan panglima tertinggi.

Tetapi, kerusakan di kalangan militer (terutama Angkatan Darat) yang disebabkan pimpinan Suharto sudah sedemikian parahnya dan pembusukan sudah sedemikian jauhnya, sehingga hanya sedikit sekali (kalau ada!) perubahan dalam sikap mental atau moral mereka. Selama 32 tahun Suharto telah memanjakan golongan militer, dan menjadikan mereka sebagai “kelas istimewa” dalam kehidupan bangsa, yang berada di atas segala golongan lainnya dalam masyarakat.

Perlakuan istimewa Suharto terhadap golongan militer ini adalah untuk “membeli” kepatuhan atau kesetiaan mereka kepadanya. Oleh karena itu, walaupun terjadi banyak kesalahan atau pelanggaran yang dibuat oleh kalangan militer selama Orde Baru , Suharto tidak (atau jarang sekali !) bertindak. Asal mereka patuh kepadanya. Itu sebabnya, maka banyak pelanggaran HAM atau penyalahgunaan kekuasaan atau korupsi, yang banyak dilakukan oleh pimpinan militer dari berbagai tingkatan dibiarkan saja dan tidak ditindak.

Sekarang, ketika resminya Orde Baru sudah gulung tikar, dan Suharto sudah dipaksa turun, maka adanya pimpinan militer seperti yang dipertontonkan panglima Kodam Jaya,Mayjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo, adalah pertanda bahwa pada pokoknya TNI-AD masih belum mengadakan perubahan seperti yang dituntut oleh gerakan reformasi.

Menurut Detikcom 7 Maret yang lalu, “ia meminta masyarakat waspada bangkitnya kembali gerakan komunisme. Hal itu bisa dilihat dari kegiatan mereka yang belakangan ini makin nyata. Kegiatan seperti pameran budaya di TIM yang digelar korban stigma Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 22 Februari lalu dan bedah buku sejarah BTI dan PKI karangan Pramoedya Ananta Toer, dinilainya sebagai bentuk konsolidasi partai berlambang palu dan arit itu.

“Konsolidasi PKI itu dalam rangka menyusun kekuatan dan memulihkan nama baik sebagai persiapan menghadapi Pemilu 2009. Targetnya, PKI bisa masuk dalam percaturan politik Indonesia. Karena itu, imbuhnya, semua pihak harus waspada dengan kemungkinan bangkitnya komunisme yang makin intensif melakukan kegiatan, baik terbuka maupun tertutup.

“Selain pameran budaya dan bedah buku, indikasi bangkitnya PKI bisa dilihat dari banyaknya aksi demo yang dilakukan para buruh tani dan sejumlah aktivis mahasiswa dari kelompok kiri yang intinya minta pencabutan Tap MPR 25/1966 tentang Pembubaran PKI, menghidupkan kembali organisasi komunis dan membubarkan koter. Kodam Jaya dalam hal ini intelijen tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas kelompok-kelompok yang dianggap garis kiri. » (kutipan selesai).

Gaya dan isi pidato Mayjen Agustadi itu mengingatkan kita kepada berbagai pernyataan dan pidato yang sering diucapkan tokoh-tokoh militer selama 32 tahun Orde Baru. Dengan terus-menerus menyebarkan racun anti-komunisme dan menjadikan PKI sebagai momok, rezim militer telah melakukan terror untuk memberantas perlawanan dan membungkam oposisi terhadap berbagai politik dan praktek mereka yang merugikan rakyat dan demokrasi.

PERINGATAN BUNG KARNO KEPADA SUHARTO

Pidato Mayjen Agustadi seperti tersebut di atas menunjukkan juga bahwa TNI-AD yang sekarang masih banyak dipengaruhi garis politik, jiwa atau semangat TNI di bawah pimpinan Suharto, yang melakukan pengkhianatan terhadap presiden Sukarno, panglima tertinggi ABRI pada waktu itu.

Dalam kaitan ini, adalah menarik untuk menyimak kembali amanat presiden Sukarno dalam upacara pelantikan Mayor Jenderal Suharto (pada waktu itu) menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara pada tanggal 16 Oktober 1965 (jadi, 15 hari sesudah peristwa G30S).

Dokumen yang berisi amanat presiden Sukarno ini tidak banyak dipublikasikan dan bahkan sengaja “disembunyikan” oleh rejim militer Orde Baru. Teks lengkapnya, yang cukup panjang, dapat dibaca dalam buku “Revolusi Belum Selesai”, yang berisi kumpulan pidato-pidato presiden Sukarno sesudah peristiwa G30S. Berikut di bawah ini adalah sedikit cuplikan dari amanat yang panjang itu.

“Mayor Jenderal Soeharto,

Saya angkat Saudara menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat. Saudara bersedia mengucapkan sumpah atau janji?

Sumpah. (Jawab Mayjen Soeharto-red)

Menurut ajaran agama?

Islam. (Jawab Mayjen Soeharto-red)

Ikuti perkataan-perkataan saya.

(Sumpah diucapkan-red .)

(Sumpah selesai diucapkan –red.)

Syukur alhamdulillah, sumpah Menteri telah Saudara ucapkan.

(Kemudian presiden Sukarno bicara panjang lebar tentang revolusi Indonesia, tentang G3OS, tentang peran nekolim yang mau mengganggu jalannya revolusi rakyat Indonesia. Teks lengkapnya dapat dibaca pada halaman 21 sampai 26 buku tersebut. Dalam amanatnya itu presiden Sukarno memberi pesan kepada Mayor Jenderal Suharto sebagai berikut: )

“Saya perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Angkatan Darat pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu Angkatan dari pada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri diatas Trisakti, yang sama sekali berdiri diatas Nasakom, yang sama sekali berdiri diatas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK.

“Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga kita yang tertinggi sebagai haluan negara Republik Indonesa. Dan oleh karena Manipol-USDEK ini adalah haluan daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus dijunjung tinggi, dijalankan, dipupuk oleh semua kita. Oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya jikalau kita berdiri benar-benar di atas Panca Azimat ini, kita semuanya, maka barulah revousi kita bisa jaya.

“Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, saya perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan sebaik-baiknya. Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau!.” (kutipan selesai)

Jadi, peristiwa ini menunjukkan bahwa Mayor Jendral Suharto sudah mengucapkan sumpah di hadapan presiden Sukarno, yang berarti bahwa sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Darat ia seharusnya patuh kepada presiden Sukarno yang juga panglima tertinggi Angkatan Bersenjata, dan bahwa Suharto seharusnya menjalankan Panca Azimat revolusi, dan menjunjung tinggi Manipol-USDEK yang menjadi haluan negara.

Kita semua tahu bahwa justru sumpah inilah yang telah dilanggar secara khianat oleh Suharto, dan kemudian melanjutkan pengkhianatannya dengan menyalahgunakan Supersemar selama 32 tahun dalam melaksanakan politik busuk Orde Baru. Kita sekarang juga mengetahui bahwa perintah presiden Sukarno telah dikentuti saja oleh Suharto. Yaitu perintah presiden Sukarno kepada Suharto yang berbunyi “ buatlah Angkatan Darat ini satu angkatan dari pada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri diatas Trisakti, yang sama sekali berdiri di atas Nasakom, yang sama sekali berdiri di atas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK”.

Suharto, dengan mendapat dukungan penuh dari Angkatan Darat, Golkar, dan berbagai kalangan reaksioner dalam negeri (dan kekuatan nekolim luar negeri !!!), telah membuat Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi sasaran kebencian rakyat. Suharto juga membikin Orde Baru mencampakkan Panca Azimat Revolusi, melecehkan Trisakti, membuang Nasakom, mengingkari prinsip Berdikari, dan memusuhi Manipol-USDEK.

BANYAK YANG HARUS DIROBAH DAN DIBETULKAN

Mengingat banyaknya berbagai kejahatan dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh golongan militer (terutama Angkatan Darat) di bawah pimpinan Suharto selama Orde Baru, maka sewajarnyalah (bahkan seharusnya !!!) bahwa teks dalam buku-buku sejarah yang dipakai untuk pelajaran di sekolah dasar, lanjutan dan perguruan tinggi yang bersangkutan dengan Suharto, Supersemar, Orde Baru dan juga Angkatan Darat perlu dirobah atau dibetulkan, menurut kebenaran sejarah.

Demikian juga segala teks dalam dokumen-dokumen negara yang masih secara tidak benar tetap memuji-muji Supersemar, dan menyanjung-nyanjung Suharto dan Orde Baru harus dibetulkan menurut kenyataan yang sudah terjadi. Begitu juga halnya dengan segala monumen atau museum atau tugu peringatan yang secara tidak benar menyajikan Suharto sebagai pemimpin Angkatan Darat yang berjasa untuk negara dan bangsa. Sebab, kenyataannya, Suharto dengan Angkatan Darat yang dipimpinnya, telah menimbulkan kerusakan-kerusakan yang parah terhadap negara dan juga menimbulkan berbagai penderitaan bagi rakyat.

Mengingat itu semua, maka perlulah kiranya kita semua sadar dan yakin bahwa, untuk selanjutnya di kemudian hari, Angkatan bersenjata Republik Indonesia harus sepenuhnya menjadi alat negara di bawah supremasi sipil, seperti kebanyakan negara demokratis lainnya di seluruh dunia. Seluruh kekuatan demokratis di Indonesia harus mencegah atau melawan bersama-sama kembalinya Dwifungsi ABRI dalam bentuknya yang bagaimanapun juga.

Kita semua (termasuk golongan-golongan yang demokratis dalam kalangan militer sendiri) harus mencegah terulangnya masa gelap Orde Baru, ketika golongan militer yang jumlahnya tidak melebihi 500.000 orang telah mengangkangi negara – secara otoriter atau despotik – dan ratusan juta rakyat (yang sekarang berjumlah lebih dari 230 juta orang), selama lebih dari 32 tahun! Pengalaman pahit bangsa ini tidak boleh berulang lagi, dalam bentuknya yang bagaimana pun juga!

“sosialis id quotes : “

 kesejahteraan RI jaman suharto sangat miris,didapat dari hutang,jika pancasila dan komunis yang berdiri,saya memberi bukti,maka bangsa akan lebih makmur dari orde baru,bukti nyata sudah ada dari bangsa bangsa beraliran sosial komunis yang melawan nekolim seperti korut,vietnam,uni soviet,venezuela !

revolusi ke sosialis menurut hemat saya harga mati,karena itu satu satunya jalan untuk melawan nekolimliberal……

bukankah bangsa kita benci penjajah ? ya itu lawanlah nekolim liberal !! dengan azaz nasakom,pancasila,marhaenisme,ala bapak bangsa bung karno,jangan mengimpikan kesejahteraan semu jaman orba,impikanlah kita menjadi negara super power yang mampu menunjukkan kemajuan dengan ideologi kuat……..

Sumber :http://merdeka7.wordpress.com/2007/05/16/supersemar-dan-pengkhianatan-suharto-dan-tni-ad/

Posted in Uncategorized | Tagged , , | 3 Comments

Kirimkan Karya Tulis Anda Tentang Sosialisme dan komunisme !

Jika anda memiliki karya tulis seputar sosialisme komunisme,baik karya ilmiah,pidato,opini,reportasi,buktisejarah maupun yang lainnya,silahkan kirimkan karya anda berupa format ms word dan di attatchment lalu silahkan kirimkan ke alamat email :

sosialkomunisindonesia@gmail.com

1 tulisan terbaik akan mendapat hadiah nominal pulsa sebagai ucapan terma kasih atas karya terbaik anda lalu hadiah pulsa dan pemenang akan diumumkan 3 bulan sekali (seleksi setiap 3 bulan)

penyelenggaraan webblog ini independen dan tidak dikelola,disupport atau disetir oleh siapapun baik pemerintah,masyarakat maupun negara soskom dunia,semua hadiah adalah pemberian administrator blog ini (sosialid) …..

Aside | Posted on by | Tagged , , , | 1 Comment