Kepalsuan G30S : Memojokkan Komunis Indonesia Dengan Beking CIA-Amerika,Sejarah Harus Diluruskan !

01-10-2012
Melacak “The Soeharto – CIA Connection”
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute
 

Catatan Penulis: Memperingati 30 September 1965, berikut sebuah artikel yang saya tulis, ketika bersama-sama dengan tim redaksi Tabloid Detak pada 1998 melakukan investigasi mengungkap apa yang terjadi sesungguhnya di balik tragedi yang pada akhirnya bermuara pada kejatuhan Presiden Pertama RI Bung Karno. 

 

Berikut paparan selengkapnya yang saya tulis pada 29 September 1998 di mingguan Tabloid Detak. Dan atas prakarsa dari AS Laksana, salah seorang tim investigasi Detak, lantas membukukan hasil investigasi tersebut yang bertajuk: “Siapa Sebenarnya Suharto, Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-S PKI”, Eros Djarot, dkk, terbitan Media Kita.”

“Salah satu plan ialah untuk membunuh beberapa pemimpin Indonesia. Sukarno, Yani, Subandrio. Itu yang pertama-tama om zee gebrahct. Harus dibunuh. Malah kalau bisa sebelum konperensi Aljazair. Deze drie beihamer harus dibunuh. Sukarno, Yani, Subandirio. Wij weten het. Kita tahu.”

(Amanat Bung Karno di depan Rapat Panglima TNI AD, 28 Mei 1965).

Siapa sebenarnya Suharto? Pertanyaan semacam itu rasa-rasanya layak untuk diajukan, kalau mau menguak lebih jauh teka-teki peristiwa G-30S 1965. Dari berbagai hipotesis dan analisis, terungkap ada beberapa keanehan. Misalnya, tiga orang penggerak G-30S (Latief, Untung, Soepardjo), oleh banyak kalangan dikenal sebagai orang orang dekat Suharto. Bahkan, dari cerita seputar kedekatan Suharto dengan Untung-Latief-Soepardjo dalam berbagai peristiwa di masa lalu, tergambarkan adanya hubungan yang tidak sebatas atasan dan bawahan saja.

Lebih dari itu, terkesan adanya hubungan “perkoncoan yang terjalin cukup erat”. Tak berlebihan bila kemudian berkembang anggapan, jangan-jangan baik penggerak maupun penumpas G-30 S dimotori oleh orang orang yang sama. The Suharto Connection. Dengan kata lain, baik penggerak G-30 S maupun kontra G-30 S merupakan suatu tatanan tunggal alias subordinasi dua faksi di bawah komando Suharto.

Itu keanehan yang pertama, Keanehan kedua, ternyata satu kompi batalyon 454/Diponegoro, Jawa Tengah dan satu kompi batalyon 530/Brawijaya Jawa Timur, yang secara terselubung digunakan Suharto sebagai penggerak G-30 S, ternyata merupakan pasukan raider elite yang menerima bantuan Amerika sejak 1962.

Lebih dari itu, para penggerak Gestapu itu sendiri ternyata pernah dilatih di AS. Brigjen Soepardjo, misalnya, pernah mengenyam pendidikan di Fort Bragg dan Okinawa, Jepang. Begitu juga dengan Untung dan Latief. Suherman, pemimpin Gestapu di Jawa Tengah, ternyata juga pernah dilatih di Fort Leavenworth dan Okinawa, Jepang.

Ini menarik. Sebab, dalam tradisi yang dikembangkan di Pentagon, setiap orang asing yang mengikuti pelatihan tersebut, merupakan orang orang yang telah melewati seleksi ketat dinas intelijen Amerika. Karenanya cukup mengejutkan bahwa ketiga penggerak utama G-30S itu ternyata kader komunis.

Namun, di mata seorang sumber yang pernah dibina langsung oleh CIA, hal semacam itu bisa saja terjadi. Ada beberapa pola perekrutan yang lazim dilakukan oleh CIA. Pertama, beberapa orang direkrut dan dibina dengan maksud untuk dijadikan bagian langsung dari organ CIA. Kedua, ada orang yang direkrut semata-mata untuk tujuan temporer. Dan ketiga, boleh jadi orang yang direkrut tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan untuk tujuan tujuan dan kepentingan kepentingan tertentu.

Dengan jalan berpikir seperti itu, bukan tidak mungkin Untung-Latief-Soepardjo secara sadar diterima dalam jaringan CIA justru untuk digunakan sebagai penunjang skenario besar CIA menggulingkan Bung Karno, sekaligus menghancurkan PKI.

Soalnya sekarang, jika penggerak dan penumpas G-30 S ternyata merupakan satu tatanan tunggal alias subordinasi dua faksi di bawah komando Suharto, wajar kalau ada pertanyaan seputar seberapa jauh Suharto menjalin kerjasama dengan CIA. Ada beberapa teori yang bisa menjelaskan kemungkinan semacam itu. Peter Dale Scott, misalnya pernah mencoba mengurai benang kusut G-30 S(lihat The US and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967).

Dengan asumsi Suharto adalah dalang G-30 S, Scott mencoba membuktikan keterlibatan Suharto melalui adanya operasi intelijen CIA untuk menggarap para alumnus SESKOAD sejak 1950-an. Menurut teman Scott, para alumnus SESKOAD itu pada perkembangannya telah digunakan oleh CIA untuk menunjang gerakan militer Suharto.

Meski baru sebuah kemungkinan, rasa-rasanya masuk akal juga. Sebelumnya, CIA gagal total mensponsori pemberontakan PRRI/PERMESTA 1958. Setelah itu, Amerika mulai menggalakkan suatu program bantuan militer kepada Indonesia. Kabarnya, sempat mencapai senilai 20 juta dolar Amerika per tahun. Bukan itu saja. Atas biaya CIA, sekelompok kecil peneliti akademisi AS yang dimotori oleh Dr Guy Pauker mulai mengadakan kontak-kontak secara terbuka dengan pihak angkatan darat. Tujuannya, menggalang kekuatan anti komunis di Indonesia. Salah satu kawan dekat Pauker di angkatan darat adalah Wakil Komandan SSKAD (Sekarang SESKOAD), Jendral Suwarto, seorang perwira lulusan AS.

Sementara itu pada 1959, Suharto yang waktu itu masih berpangkat kolonel, mulai masuk SSKAD. Mulanya ini bukan pengalaman yang menyenangkan buat Suharto. Betapa tidak. Antara 1956-59, Suharto menjabat Pangdam Diponegoro. Namun, pada perkembangannya, Nasution melihat adanya indikasi keterlibatan Suharto dalam tindak korupsi dan penyelundupan.

Alhasil Suharto dicopot dari jabatannya. Bahkan, Suharto hampir dipecat sebagai tentara. Untungnya, Jendral Gatot Subroto turun tangan sehingga Suharto selamat dari pemecatan. Sebagai gantinya, dia dikirim ke SESKOAD untuk tugas belajar.

Di situlah kontak intensif Suwarto-Suharto bermula. Maka sejak itu Suwarto mulai membina Suharto secara terus-menerus. Dalam berbagai kesempatan, dilibatkan oleh Suwarto dalam penyusunan Doktrin Perang Wilayah dan Operasi Karya. Operasi Karya yang dapat bantuan penuh dari Amerika melalui suatu program yang disebut MILTAG (Military Training and Advisory Group-Penasehat Latihan Militer).

Operasi Karya, resminya merupakan proyek-proyek sipil memperbaiki saluran, memperbaiki sawah baru, serta membangun jembatan dan jalan. Tapi, operasi ini sebenarnya merupakan operasi terselubung untuk membangun kontak-kontak dengan unsur-unsur anti-komunis dalam angkatan darat beserta organisasi wilayahnya.

Jadi, Suharto memang tidak pernah belajar di Amerika. Namun kedekatannya dengan Suwarto dan para intelektual antikomunis dalam operasi karya, besar kemungkinan telah menempatkan Suharto seirama dengan skenario besar CIA untuk mendongkel Bung Knaro seraya menghancurkan keberadaan PKI.

Kalau begitu, sejak awal G-30 S dan kontra G-30S pada 1 Oktober, sejak awal memang bermaksud memunculkan Suharto. Pertanyaannya, mengapa harus Suharto? Bisa jadi Suharto sudah diamati Amerika dan CIA sejak 1959.

Kembali ke dua batalyon yang saya sebut di atas, terbukti bahwa baik untuk peggerak G-30S maupun penumpasan, Suharto membelah komando jadi dua faksi. Untuk gerakan 30 September, Suharto menggerakkan komandan batalyon. Sedangkan untuk menumpas 30 September, Suharto menggerakkan wakil komandan batalyonnya untuk menumpas atasannya langsung yang telah melakukan gerakan 30 S. Padahal sumber perintah datangnya dari satu orang yang sama: Suharto.

Belakangan, melalui investigasi seputar Surat Perintah 11 Maret 1966, terungkap kesaksian kapten Sukarbi, mantan Wakil Komandan Batalyon 530/Brawijaya Jawa Timur, bahwa Suharto selaku Pangkostrad waktu itu, mengeluarkan SK perintah untuk mengambil oper komando Mayor Bambang Supeno sebagai Komandan Batalyon dengan dalih telah terlibat dalam gerakan 30 September.

Beberapa indikasi lain juga memperkuat sinyalemen tersebut. Beberpaa bulan menjelang meletusnya gerkaan 30 September, beberapa veteran PRRI/PERMESTA di bawah pimpinan Yan Walandouw berkunjung ke Washington untuk meminta dukungan Amerika agar Suharto bisa jadi presiden, menggantikakan Bung Karno.Yan Walandouw, Willy Pesik, serta Daan Mogot punya kontak khusus dengan Ali Murtopo, orang dekat Suharto di Kostrad. Dan bahkan jangan lupa, dengan Ekonom Sumitro Djojohadikusumo, yang kelak sejak 1967, berperan penting dalam konferensi ekonomi di Swiss, yang digelar oleh David Rockefeller. Yang kemudian memberi jalan bagi PT Freeport McMoran untuk kembali menanamkan pengaruhnya di Indonesia, menyusul kebijakan nasionalisasi perusahaan asing oleh Bung Karno. Konferensi Swiss yang dari Indonesia dimotori oleh Soemitro dan Ibnu Sutowo, akhirnya keluarlah Undang-Undang Penanaman Modal Asing sebagai payung bagi invasi perusahaan-perusahaan asing di ranah ekonomi Indonesia.

Dengan demikian, Gerakan 30 September 1965 sejatinya adalah gerakan menyingkirkan Jenderal Ahmad Yani, dan para pendukungnya di angkatan darat,yang dianggap setia kepada Bung Karno. Sehingga membuka pintu masuk bagi Suharto untuk merebut kekuasaan secara bertahap (Creeping Coup).

sumber : http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=9654&type=4#.UT20Gh2l7sU

About sosialisid

Sudah Saatnya Rakyat Indonesia Keluar dari Lignkaran Setan Kapitalis dan Liberalis,Dengungkan Revolusi !
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

15 Responses to Kepalsuan G30S : Memojokkan Komunis Indonesia Dengan Beking CIA-Amerika,Sejarah Harus Diluruskan !

  1. Sudjarwijanto Suwignjo says:

    Sosialis komunisme sudah tidak cocok untuk dihidupkan kembali di Indonesia , bahkan di negara negara yang tadinya menganut paham tersebut sudah bergesaer ke arah Sosialisme kapitalis contoh CINA , RUSIA , dan lain lain nya . Benturan benturan sosial politik yang signifikan dapat mungkin terjadi dan akibatnya memperlambat laju pertumbuhan sosial politik dan ekonomi bangsa Indonesia.

  2. Sosialisid says:

    tanggapan : ya memang china dan russia (uni soviet) mulai meninggalkan komunisme,itu karena idealisme mereka yang lemah dan mulai luntur,terpengaruh antek kapitalis dan liberalis serta tekanan dari negara yang menganut paham diatas,serta tidak berpegang teguh pada nilai dan falsafah marx dan lenin,kalau indonesia menganut kapitalisme,gesekkan lebih banyak terjadi daripada menerapkan ideologi soskom,anda bisa melihatnya sekarang,betapa sengsaranya kaum kecil di indonesia,mereka dibiarkan bebas bersaing dengan average yang tidak seimbang,mereka tak dijamin siapapun,soskom meperlambat ekonomi sungguh pernyataan yang tidak beralasan,buktinya negara yang menganut soskom dan mulai membenci kaum borjuis seperti venezuela dan vietnam malah meroket ekonominya,mereka berontak !,jalan untuk kemakmuran bangsa dengan soskom ini,galakkan berdikari,stop impor,bangun padat karya,gotong royong dan lainnya,semua itu tidak terwujud karena tidak ada perlindungan,perlindungan terhadap kapitalis licik adalah sosial komunisme….. revolusi harga mati !

  3. tatangbg says:

    masih terlalu banyak tanda tanya klo soeharto terlibat G30S tapi klo soeharto memanfaatkan situasi dengan ambisi pribadi mungkin masuk akal…..dengan dibikinnya dokumen palsu oleh duta besar inggris (dokumen Gillchrist) yang jatuh kekubu PKI untuk memancing amarah dan agar PKI bergerak..dan ini sudah diperhitungkan siapa bergerak dulu akan hancur . dan disinilah pungsi dokumen itu berpungsi untuk memperkeruh situasi yang sedang memanas antara AD dan PKI ….dan disini kelebihan soeharto memanfaatkan situasi dan secara kebetulan soeharto adalah bukan jendral terpilih ato kelompok jendral 7 tersebut……dan keuntungan kaum kapitalis dibawah komando inggris dan USA dia lebih diuntungkan dengan mennyokong dan membonceng ke soeharto

  4. Ipin Upin says:

    Jokowi keliatan banget spt boneka, siapa dalangnya.. itu yg harus diwaspadai.. Perebutan kekuasaan berikutnya akan terjadi. Sekarang terlihat komunis, liberal dan syiah sedang bekerja sama. dan suatu saat mereka akan bertengkar sendiri…

  5. irfan says:

    Pki tidak akan pernah bisa menguasai Indonesia.

  6. ilusi says:

    Bagaimanapun,kapitalisme dan liberalis menggerogoti negara ini.harus ada perjuangan melawan sistem yahudi itu.freemason dan iluminati bergerak dalam susunan kepemerintahan negara ini dibawah naungan yahudi kapitalis-liberalis.revolusi sistem harus digerakkan

  7. user112 says:

    Wkwkwkwk si adminnya maksa banget. Skrg jamannya gadget om. Bukan jaman komunisme lg. Maju dikit napah. Ketahuan nih pasti yg adminnya org2 tahun 50an. Inget udah uzur dikit lg bau tanah om. 😂😂😂😂

  8. sabrow says:

    COBA AJA KOMUNIS MASUK BANTEN, GUE ORANG PERTAMA YG SIAP BABAT SAMPE KE AKAR AKARNYA..!!

  9. sabrow says:

    KAPITALISME DAN LIBERALISME memang menggerogoti setiap sendi kehidupan berbangsa kita, tapi BUKAN BERARTI KOMUNISME lebih baik, bahkan sudah terbukti aliran komunis selalu jadi penghianat bagi perjuangan bangsa, (madiun, 1948) jika g30s mereka berkelit ..

  10. Anti komunis says:

    Komunis = ATHEIS, baca dulu yg benar tentang paham nya min, baru nulis. Lihat tuh Korut, komunis asli, ada rumah ibadah disana? Hukuman mati klo ada

  11. Robby hamidy says:

    Anda mencoba menegakkan benang basah….. sosialisme… mungkin iya, bisa kita adopsi… komunisme.. ? Waah nggak deh.. btw saya bicara tentang sosialisme ala UUD 1945. Bukan sosialisme ala karl marx.

  12. reich_akbar says:

    Saya fasisme nasionalis sosialis, disini saya sebagai kedalam kelompok “Nazionalisme” menolak paham PKI ini klo memang benar dengan jalan mengambil komunis itu bisa membuat rakyat makmur sejahtera, kemungkinan tidak!! sebab pada jaman Stalin, Mao, mereka memperkerjakan rakyat dengan dalang impian masa depan tapi memperbudak tenaga rakyat. makanya lihat sejarah dari sumbernya(Ideologi). Saya sebagai berfaham fasis bukan berarti saya mendukung hitler apa yang telah dilakukanya semasa dahulu tapi memperbaharui atas pemahaman fasis menjadi Free People “Semua Hak Rakyat dari kehidupannya harus ditanggung pemerintah, sebab jika rakyat lemah maka pemerintah lemah jika memperkuat Rakyat yang lemah menjadi kuat ekonominya maka berangsur2x pemerintah juga sama makmur seperti sistem kekhalifahan Islam.

  13. ANTI PKI says:

    G30S didalangi antek CIA spt SJAM dari PKI, DOEL ARIEF dari CHAKRABIRAWA dan ASOEHARTO dari TNI AD. tugas sjam menghasut untung dan latief menculik para jendral hdup hdup tp kemudia sjam membelokkan nya jadi pembunuhan jendral lwt tangan doel arief. tugas soeharto mengkambinghitamkan pki melakukan kudeta dan memperalat tni ad dan rakyat utk menumpas pki.

  14. Ridwan says:

    Konsep – konsep… .teori – teori ketatanegaraan itu semua omong kosong..apalagi konsep komunis..komunis itu kanker stadium 8 yg sangat berbahaya dan ganas yg hrs di”ambil” sampe akarnya…satu-satunya
    Yang bisa menyelamatkan adalah kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul dalam praktek kehidupan bernegara..

  15. NASIONAL IS ME says:

    wah parah nih paham2 komunis, memang konsep komunis bagus kesamaan rata gada kesenjangan sosial, sosialis juga punya kesamaan dengan budaya nenek moyang kita yaitu gotong royong, TAPI komunis tidak percaya adanya TUHAN, jangan sok tutup mata, banyak belajar lagi dek, thn 48 dimadiun pki pernah berontak para kiyai tokoh agama pejabat pemerintah organisasi mahasiswa islam diBANTAI ideologi pancasila mau diganti komunis, lo punya agama gak sih ato kafir? ato bocah ingusan yang terpengaruh oleh postingan2 sesat diinternet yang sok mengagungkan komunis, jangan mentang2 sukarno dekat dengan pki penganut paham sosialisme marxisme kau sebut dia komunis, sukarno itu NASIONALIS AGAMIS bukan komunis bangsat!!

Komentar Anda :

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s